Polres Magelang Tangkap Tiga Penyalur PMI Ilegal

P2MIProjo.com – Tiga orang penyalur pekerja migran Indonesia ilegal ditangkap jajaran Kepolisian Resor Kota (Polresta) Magelang, Jawa Tengah. Ketiganya telah ditetapkan sebagai tersangka.

Mereka adalah Wasiati (57) asal Desa Danurejo, Kecamatan Mertoyudan, Kabupaten Magelang; Slamet Prihatin (45) asal Kelurahan Rejowinangun Utara, Kecamatan Magelang Utara, Kota Magelang, dan Siti Fatonah (51) warga Desa Sumberarum, Kecamatan Tempuran, Kabupaten Magelang

Baca juga:

Polres Cianjur Ciduk Penyalur PMI Ilegal di Penampungan

Kapolresta Magelang, Komisaris Besar Polisi Ruruh Wicaksono mengatakan, mereka bertiga selama ini mencari orang untuk diperkerjakan sebagai pekerja migran Indonesia ke Malaysia secara ilegal.

Adapun kasus ini terungkap berawal dari informasi masyarakat terkait penempatan pekerja migran ilegal yang dilakukan oleh tersangka Wasiati di Dusun Brontokan, Desa Danurejo, Kecamatan Mertoyudan, Kabupaten Magelang

Hal serupa dilakukan oleh tersangka Slamet Prihatin di Dusun Sawahan, Desa Pancuranmas, Kecamatan Secang, Kabupaten Magelang.

Baca juga:

Satgas TPPO Gerebek Tempat Penampungan Calon Pekerja Migran Non Prosedural di Lumajang

“Setelah diselidiki dan diperiksa polisi, mereka mengakui telah menempatkan para pekerja migran Indonesia tersebut ke luar negeri, diantaranya di Malaysia. Terlapor mengakui bekerja secara peseorangan dan bukan merupakan P3MI (perusahaan penempatan pekerja migran Indonesia) yang telah memiliki ijin dari pemerintah,” papar Ruruh, dalam keterangan pers di Mapolresta Setempat, Senin (12/6/2023).

Selanjutnya petugas mengamankan terlapor dan barang bukti untuk selanjutnya dibawa ke Polresta Magelang untuk porses penyelidikan dan penyidikan lebih lanjut.

Baca juga:

Gagalkan Pengiriman 123 CPMI Ilegal, Satgas TPPO Tetapkan 8 Tersangka

Modus tersangka, imbuh Ruruuh, calon pekerja direkrut dengan cara tersangka memasang iklan lowongan kerja ke luar negeri dengan biaya gratis dan mendapatkan uang, serta mendatangi rumah untuk menawarkan lowongan kerja ke luar negeri gratis dan uang saku untuk keluarga dan anak yang ditinggal.

Bahkan, tersangka menguruskan paspor calon tenaga kerja melalui kantor imigrasi Pati dan Wonosobo. Sebelum paspor jadi para calon tenaga kerja ditempatkan di sebuah penampungan di daerah Pingit, Kabupaten Temanggung.

Di penampungan pun mereka melakukan medical check up serta pelatihan. Setelah paspor jadi kemudian pekerja diberangkatkan menggunakan pesawat menuju Batam. Kemudian di Batam dijemput oleh agen.

Baca juga:

22 CPMI Asal NTB Nyaris Jadi Korban TPPO

Dari Batam, mereka diantar oleh agen menggunakan kapal veri menuju ke Malaysia. Sampai di negeri Jiran itu mereka ditempatkan di penampungan untuk menunggu dijemput oleh calon majikan mereka.

“Dalam perekrutan pekerja oleh tersangka tersebut bekerja sama dengan seseorang agen, yang apabila pekerja lolos medical check up maka tersangka mendapat upah atau fee sebesar 7.000RM atau sekitar Rp 22.000.000,” paparnya.

“Sesampai di Malaysia mereka harus memenuhi aturan dari pihak agen penerima pekerja antara lain tidak terima gaji selama 3 bulan dengan gaji per bulan 1.500RM, dikarenakan sudah diberikan uang saku dan uang proses medical, tiket pesawat, pembuatan Paspor, dilarang menggunakan ponsel,” lanjut Ruruh.

Baca juga:

Hebat! Izin Operasional Mati, PT BMCM Bisa Rekrut 200 CPMI

Apabila ada pekerja yang membatalkan atau pulang sebelum kontrak habis selama jadi tenaga migran maka oleh tersangka akan didenda untuk ganti rugi biaya paspor, biaya transport dan uang saku. Ruruh berucap, tersangka Slamet Prihatin mengaku telah mengirim sebanyak 17 orang pekerja migran Indonesia illegal.

Kemudian, tersangka Siti Fatonah telah mengirim sebanyak 30 orang dan Wasiti telah memberangkatkan secara illegal sebanyak enam orang.

Menurutnya, dari puluhan tenaga kerja migran illegal yang dikirim oleh ketiga tersangka, tidak ada satupun orang yang usianya di bawah umur. Karena, dalam persyaratan yang diminta oleh para tersangka, batas usia minimal 21 tahun. Para korban rata-rata dipekerjakan sebagai asisten rumah tangga atau merawat orang jompo.

Brosur Hosana Jasa Persada

Dalam menjalankan aksinya, para tersangka mengirimkan tenaga migran tersebut secara pribadi bukan melalui perusahan penempatan pekerja migran Indonesia yang telah memiliki izin dari pemerintah.

“Mereka illegal, karena mengirimkan tenaga kerja migran Indonesia tersebut secara pribadi dan tidak ada izin dari pemerintah,” ujarnya.

Sementara itu,tersangka Wasiati mengaku dirinya terpaksa melakukan perbuatan tersebut karena terdesak kebutuhan rumah tangganya, semenjak ditinggal suaminya yang telah meninggal dunia.

Secara kebetulan, dirinya mendapatkan tawaran yang cukup menggiurkan dari sebuah agen di Malaysia, yakni uang sebesar Rp3 juta hingga Rp 4 juta rupiah per orang yang dikirimnya.

“Saya mendapatkan tawaran keuntungan dari sebuah agen di Malaysia yakni uang sebesar Rp3 juta hingga Rp 4 juta rupiah per orang yang kirimnya,” ujar perempuan yang pernah jadi TKW di Malaysia selama 2,5 tahun ini.

Related

Kemnaker Tutup Sementara Penempatan PMI Program SPSK ke Arab Saudi

P2MIProjo.com - Kementarian Ketenagakerjaan Republik Indonesia menutup sementara penempatan...

Persiapan Keberangkatan 34 PMI ke Arab Saudi Lewat SPSK

P2MIProjo.com - Asosiasi Perusahaan Jasa Tenaga Kerja Indonesia (APJATI)...

Apjati Kembali Lepas Keberangkatan 34 PMI ke Arab Saudi Lewat SPSK

P2MIProjo.com - Asosiasi Perusahaan Jasa Tenaga Kerja Indonesia (APJATI)...

Banyak PHK Pasca Pandemi Covid-19, Pemprov Babel Gencarkan Sosialisasi TPPO

P2MIProjo com - Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung menggencarkan...

PN Batam Banyak Adili Kasus TPPO dan PMI Ilegal, Jampidum Ingatkan Jaksa Mengacu Aturan Hukum

P2MIProjo.com - Kota Batam sebagai kota yang berbatasan langsung...